BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Kepuasan kerja
merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk mendapatkan hasil kerja
yang optimal. Ketika seorang merasakan kepuasan dalam bekerja tentunya ia akan
berupaya semaksimal mungkin dengan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk
menyelesaikan tugas pekerjaannya. Dengan demikian produktifitas hasil kerja
pegawai akan meningkat secara optimal.
Definisi kepuasan kerja
menurut Stamps (dalam Taunton, dkk, 2004) seberapa jauh seseorang menyukai
pekerjaannya. Semakin orang tersebut menyukai pekerjaannya, maka semakin
puaslah dia terhadap pekerjaannya.
Menurut Angga Leo :
Kepuasan itu terjadi apabila kebutuhan-kebutuhan individu sudah terpenuhi dan
terkait dengan derajat kesukaan dan ketidaksukaan dikaitkan dengan Pegawai;
merupakan sikap umum yang dimiliki oleh Pegawai yang erat kaitannya dengan
imbalan-imbalan yang mereka yakini akan mereka terima setelah melakukan sebuah
pengorbanan. Apabila dilihat dari pendapat Robin tersebut terkandung dua
dimensi, pertama, kepuasan yang dirasakan individu yang titik beratnya individu
anggota masyarakat, dimensi lain adalah kepuasan yang merupakan sikap umum yang
dimiliki oleh pegawai.
1.2 Rumusan masalah
1. Apa definisi kepuasan kerja dalam organisasi?
2. Bagaimana teori kepuasan kerja?
3. Apa saja factor yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan
dalam perusahaan?
4. Bagaimana cara mengukur kepuasan kerja seseorang?
5. Apa manfaat kepuasan kerja?
6. Bagaimana cara karyawan mengungkapkan ketidakpuasan ?
7. Bagaimana korelasi dalam hubungan kerja ?
1.3 Tujuan penulisan
1. Mengetahui definisi kepuasan kerja dalam organisasi
2. Mengetahui teori tentang kepuasan kerja
3. Mengetahui factor yang mempengaruhi kepuasan kerja
karyawan dalam organisasi
4. Mengetahui Bagaimana peran menejer dalam meningkatkan
kepuasan kerja bawahannya
5. Mengetahui bagaimana cara mengukur kepuasan kerja
seseorang
6. Mengetahui manfaat kepuasan kerja
BAB
II
TUJUAN
PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu
Beberapa
hasil penelitian terdahulu yang berhubungan dengan penelitian ini adalah
sebagai berikut :
Tabel 2.1
Penelitian terdahulu
|
No
|
Nama
|
Judul
|
Kesimpulan
|
|
1.
|
Novita
Bambang Swasto Sunuharjo
Ika
Ruhana
(2016)
|
Pengaruh
Kepuasan Kerja Dan Komitmen Organisasional Terhadap Kinerja Karyawan (Studi
Pada Pt. Telekomunikasi Indonesia, Tbk Witel Jatim Selatan, Malang)
|
Berdasarkan
hasil Uji Simultan (Uji F) variabel kepuasan kerja dan komitmen
organisasional berpengaruh signifikan terhadap variabel kinerja
karyawan. Berdasarkan hasil Uji
Parsial (Uji t) variabel kepuasan kerja berpengaruh signifikan terhadap
variabel kinerja karyawan. Berdasarkan hasil Uji Parsial (Uji t) variabel
komitmen organisasional tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel
kinerja karyawan.
|
|
2.
|
Erni
Hayati Nasution , Said Musnadi , Faisal
(2018)
|
Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja Dan Dampaknya Terhadap Kinerja Pegawai
Kanwil Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Aceh
|
Hasil
penelitian terhadap budaya organisasi membuktikan bahwa budaya organisasi
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai. Hasil penelitian
juga membuktikan bahwa kepuasan kerja pegawai berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kinerja pegawai. Hasil penelitian juga membuktikan bahwa terdapat
pengaruh tidak langsung keterlibatan, beban kerja dan budaya organisasi
terhadap kinerja pegawai melalui kepuasan kerja pegawai.
|
|
3.
|
Rina
Milyati Yuniastuti
(2011)
|
Pengaruh
Kepuasan Kerja Terhadap Prestasi Kerja Karyawan Pada Cv. Organik Agro System
Di Bandar Lampung
|
Kepuasan
Kerja berpengaruh signifikan terhadap Prestasi Kerja Karyawan. Dengan
demikian hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa Kepuasan Kerja
berpengaruh signifikan terhadap Prestasi Kerja Karyawan pada CV.Organik Agro
System (OASIS) dapat diterima.
|
|
4.
|
Dede
Kurnia Ilahi, Mochamad Djudi, Mukzam Arik Prasetya
(2017)
|
Pengaruh
Kepuasan Kerja Terhadap Disiplin Kerja Dan Komitmen Organisasional (Studi
Pada Karyawan Pt.Pln (Persero) Distribusi Jawa Timur Area Malang)
|
Hasil
penelitian menunjukan bahwa pengaruh kepuasan kerja melalui disiplin kerja
terhadap komitmen organisasi (secara tidak langsung) sebesar 0,347 dengan
total pengaruh 0,611.
|
|
5.
|
TITIS
MELANI SUHAJI
|
Faktor
– Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja (Studi Pada Karyawan Sekolah Tinggi
Ilmu Farmasi”Yayasan Pharmasi” Semarang)
|
Menggunakan analisa regresi Faktor
finansial berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja. Faktor fisik
berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja . Faktor sosial berpengaruh positif
terhadap kepuasan kerja . Faktor psikologi berpengaruh positif terhadap
kepuasan kerja . Faktor Finansial, Fisik, Sosial dan psikologi berpengaruh
positif terhadap kepuasan kerja secara bersama – sama.
|
|
6.
|
Hendra
Indy H. Dr. Seger Handoyo
(2013)
|
Hubungan
Kepuasan Kerja Dengan Motivasi Kerja Pada Karyawan Bank BTPN Madiun
|
Sejak
saham Bank BTPN dijual kepada publik pada tahun 2008, bank ini terus menerus
melakukan perubahan. Ada yang suka dengan perubahan ini, ada pula yang tidak
mampu bertahan. Tetapi perubahan ini banyak mendapat respon positif.
Fasilitas ditambah dan karyawan makin diapresiasi. Dengan memperhatikan
karyawan tapi tidak memanjakan, bisa memperkuat motivasi untuk bekerja.
|
|
7.
|
Suwardi Joko Utomo
(2011)
|
Pengaruh
Motivasi Kerja, Kepuasan Kerja, Dan Komitmen Organisasional Terhadap Kinerja Pegawai (Studi
Pada Pegawai Setda Kabupaten Pati)
|
Hasil pengujian ini dapat dimaknai bahwa
pegawai yang memiliki motivasi dan kepuasan kerja yang tinggi, maka akan
cenderung mempunyai kinerja yang tinggi terhadap organisasi. Untuk mencapai
kinerja yang tinggi, maka motivasi dan kepuasan kerja pegawai di Sekretariat
Daerah Kabupaten Pati harus ditingkatkan.
|
BAB
III
PEMBAHASAN
A. Definisi
kepuasan kerja dalam organisasi
Kepuasan
kerja merupakan cara seseorang pekerja merasakan pekerjaannya yang merupakan
generalisasi sikap – sikap terhadap pekerjaannya yang didasarkan atas aspek –
aspek pekerjaan yang bermacam – macam.
B. Teori
kepuasan kerja
1. Teori
Pertentangan atau ketidaksesuaian ( Discrepancy theory)
Teori
pertentangan ini dikemukakan oleh Locke, ia menyatakan bahwa kepuasan atau
ketidakpuasan terhadap beberapa aspek dari pekerjaan mencerminkan penimbangan
dua nilai, yaitu; 1) pertentangan antara apa yang diinginkan seseorang individu
dengan apa yang diterima; 2) pentingnya apa yang diinginkan bagi individu.
2.
Model dari Kepuasan Bidang/bagian (Facet satisfaction)
Model
Lawler dari kepuasan bidang sangat berkaitan dengan teori keadilan dari Adams.
Menurut Model Lawler, orang akan puas dengan bidang tertentu dari pekerjaan
mereka. Contohnya persepsi seorang tenaga kerja terhadap jumlah honor yang
seharusnya ia terima berdasarkan untuk kerjanya dengan persepsi tentang
honorarium yang secara aktual mereka terima. Jika ia menerima honor lebih dari
yang sepatutnya ia terima maka ia akan merasa salah dan tidak adil. Sebaliknya
jika ia mempersepsikan ia terima kurang dari sepatutnya maka ia akan tidak
puas.
3. Teori
Proses Bertentangan (Opppoent process theory)
Teori
ini mengatakan bahwa seseorang ingin mempertahankan suatu keseimbangan
emosional. Teori ini mengasumsikan bahwa kondisi emosional yang ekstrim tidak
memberikan kemaslahatan. Kepuasan atau ketidakpuasan kerja memacu mekanisme
fisiologikal dalam sistem saraf pusat yang membuat aktif emosi bertentangan
atau berlawanan.
4.
Teori Hierarki Kebutuhan dari Abraham Maslow
Teori
ini berpendapat bahwa dalam setiap individu memiliki lima hierarki kebutuhan
mulai kebutuhan yang mendasar sampai dengan kebutuhan yang lebih tinggi.
Kebutuhan tersebut adalah kebutuhan fisiologis, rasa aman, sosial, penghargaan
dan aktualisasi diri. Maslow berpendapat bahwa orang berusahan memenuhi
kebutuhan pokok sebelum mengarahkan perilaku memenuhi kebutuhan yang lebih
tinggi. Karyawan memiliki kebutuhan untuk memuaskan hierarchi kebutuhannya
pada tingkat yang berbeda.
5. Teori ERG
(Eksistensi-Relasi-Pertumbuhan)
Teori
ERG mengatakan bahwa terdapat tiga kelompok kebutuhan dasar, yaitu kebutuhan
terhadap keberadaan, saling berhubungan dan pertumbuhan. Teori ini menjelaskan
bahwa
kebutuhan individu tidak harus dimulai dari kebutuhan pertama. Akan tetapi kebutuhan tersebut dapat berlangsung secara bersama - sama. Jika kepuasan terhadap kebutuhan yang lebih tinggi terganggu, maka kebutuhan yang lebih rendah akan mendorongnya untuk mencapai tingkat kepuasan tersebut.
kebutuhan individu tidak harus dimulai dari kebutuhan pertama. Akan tetapi kebutuhan tersebut dapat berlangsung secara bersama - sama. Jika kepuasan terhadap kebutuhan yang lebih tinggi terganggu, maka kebutuhan yang lebih rendah akan mendorongnya untuk mencapai tingkat kepuasan tersebut.
C. Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja
1. Pekerjaan itu sendiri (Work It
self)
Setiap
pekerjaan memerlukan suatu keterampilan tertentu yang sesuai dengan bidangnya
masing-masing. Susah tidaknya suatu pekerjaan itu serta perasaan seseorang
bahwa keahliannya dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan tersebut, akan
berpengaruh terhadap perusahaan yaitu bias jadi meningkatkan atau mengurangi
kepuasan kerja.
2. Atasan(Supervision)
Seorang
atasan yang baik berarti ia harus mau menghargai pekerjaan bawahannya sendiri.
Bagi bawahan, atasan bisa dianggap sebagai figur ayah /ibu /teman /rekan kerja
dan sekaligus sebagai atasannya.
3. Teman sekerja (Workers)
Merupakan
faktor yang sangat berhubungan erat dengan hubungan antara pegawai dengan
atasannya dan dengan pegawai lain, baik yang sama maupun yang berbeda jenis pekerjaannya.
Bagaimana hubungan yang terjalin akan mempengaruhi kepuasan kerja.
4. Promosi (Promotion)
Merupakan
faktor yang berhubungan dengan ada tidaknya kesempatan untuk memperoleh
peningkatan karier selama bekerja dalam sebuah perusahaan.
5. Upah
(Pay)
Merupakan
faktor pemenuhan kebutuhan hidup pegawai yang dianggap layak atau tidak dalam
memenuhi kebutuhan sehari – hari hidupnya.
D. Cara
mengukur kepuasan kerja
1. Rating Scale
2. Critical Incidents
3. Interview
4. Action Tendencies
E. Manfaat
kepuasan kerja
Kesuksesan
dalam suatu organisasi tergantung kepada orang - orang yang ada di dalamnya.
Jika orang - orangnya yang bekerja di dalamnya berkinerja bagus, maka kinerja
organisasi tersebut juga akan bagus. Karyawan dengan kepuasan kerja yang tinggi
cenderung akan lebih memiliki kepedulian terhadap organisasi yang ia ada di
dalamnya. Sehingga mereka akan memberikan nilai yang superior kepada para
pelanggan melalui layanan terbaik yang bias dilakukan. Mereka juga cenderung
lebih memiliki komitmen tinggi terhadap organisasi. Sehingga organisasi yang
kepuasan kerja karyawannya tinggi akan memiliki perkembangan yang tinggi dan
cepat pula dan tidak banyak kemunduran yang terjadi. Kemudian, karyawan dengan
kepuasan kerja tinggi juga lebih produktif yang tidak hanya berdampak pada
meningkatnya produktivitas individual, tentunya hal ini juga berdampak positif
pada produktivitas organisasi atau perusahaan. Sehingga pada jangka panjang,
kinerja perusahaan juga makin baik dan meningkat.
F. Pengukuran Kepuasan
Kerja.
1. Pengukuran kepuasan kerja dengan
skala job description index.
2. Pengukuran kepuasan kerja dengan
Minnesota Satisfaction Questionare.
3. Pengukuran kepuasan kerja berdasarkan
ekspresi wajah.
G.
Bagaimana Karyawan Dapat Mengungkapkan Ketidakpuasan.
1.
Exit, perilaku yang mengarah untuk meninggalkan organisasi, mecakup pencarian
suatu posisi baru maupun meminta berhenti.
2.
Suara (Voice), dengan aktif dan konstruktif mencoba memperbaiki kondisi.
Mencakup saran, perbaikan, membahas problem-problem dengan atasan, dan beberapa
bentuk kegiatan serikat buruh.
3.
Kesetiaan (Loyality), pasif tetapi optimistis menunggu membaiknya kondisi.
Mencakup berbicara membela organisasi menghadapi kritik luar dan mempercayai
organisasi dan manajemennya untuk “melakukan hal yang tepat”.
4.
Pengabaian (Neglect), secara pasif membiarkan kondisi memburuk, temasuk
kemangkiran atau datang terlambat secara kronis, upaya yang dikurangi, dan
tingkat kekeliruan yang meningkat.
BAB
IV
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Kepuasan kerja itu
penting dipelajari dalam kajian perilaku organisasi, karena dengan mengetahui
kepuasan kerja maka akan memudahkan bagi organisasi untuk mengembangkan
organisasinya tersebut.
Kepuasan kerja
merupakan sebentuk rasa senang terhadap apa yang telah dikerjakannya, namun
kepuasan kerja bersifat subjektif. Kepuasan antara individu satu dengan
individu lainnya cenderung berbeda, karena setiap individu mempunyai kriteria
kepuasan tersendiri dalam mengukur tingkat kepuasan hidupnya, namun kepuasan
pegaawai dalam bekerja dapat dilihat dari bagaimana kinerja pegawai tersebut
namun hal tersebut tidak menjamin pegawai merasa puas karena pada hakikatnya
manusia tidak mempunyai rasa puas.
Kepuasan kerja (job
satisfaction) mengacu pada keseluruhan sikap yang akan terjadi pada diri setiap
individu secara umum terhadap pekerjaannya. Faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi kepuasan kerja di antaranya kondisi kerja/lingkungan kerja,
peraturan atau budaya organisasi serta karakteristik organisasi, kompensasi
yang memuaskan, efisiensi kerja dan partner kerja
DAFTAR
PUSTAKA
N, wexley Kenneth dkk. 2003. Perilaku Organisasi dan Pesikologi Personalia. Jakarta:
PT Rineka Cipta
P, Robbin Stephen. 2002. Prinsip – prinsip Perilaku Organisasi ( edisi kelima).
Jakarta: Erlangga.
Vavis keith dan W Newstrom. 1985. Perilaku dalam Organisasi( jilid 1 edisi ketujuh).
Jakarta: Erlangga.
http://pakguruhonorer.blogspot.com/2016/02/makalah-keorganisasian-kepuasan-kerja.html
Annisa, Sasha. 2015. Makalah Kepuasan Kerja.
http://sashaannisa18.blogspot.com/2015/03/makalah-kepuasan-kerja.html.